Jejak Laut Purba di Daratan Gorontalo: Menguak Keunikan Geosite Batugamping Merah Lahumbo..

Jejak Laut Purba di Daratan Gorontalo: Menguak Keunikan Geosite Batugamping Merah Lahumbo..
            

Lahumbo Red Limestone

Boalemo, Gorontalo — Di tengah bentang perbukitan sederhana di Desa Lahumbo, Kecamatan Tilamuta, tersembunyi sebuah “arsip alam” yang menyimpan kisah panjang bumi. Geosite Batugamping Merah Lahumbo bukan sekadar hamparan batu berwarna kemerahan, melainkan rekaman geologi yang mencatat perjalanan laut purba hingga menjadi daratan seperti sekarang.

Rekaman Laut Dalam Berusia Puluhan Juta Tahun

Secara ilmiah, batugamping merah Lahumbo merupakan bagian dari Formasi Tinombo yang terbentuk sejak kala Eosen hingga Miosen awal, atau sekitar 50 hingga 15 juta tahun lalu.
Pada masa itu, wilayah ini masih berada di lingkungan laut dalam. Endapan karbonat perlahan terbentuk di dasar samudra, mengeras melalui proses diagenesis, lalu terangkat akibat dinamika tektonik hingga muncul ke permukaan seperti yang terlihat saat ini.

Warna merah khas yang menjadi daya tarik utama berasal dari kandungan mineral oksida besi, seperti hematit, yang terakumulasi selama proses pembentukan batuan.

Tak hanya itu, penelitian juga menemukan jejak mikrofosil berupa cangkang organisme laut (Pelecypoda), yang menjadi bukti kuat bahwa kawasan ini pernah menjadi habitat kehidupan laut purba.

Keunikan Geologi: Langka dan Sarat Proses Alam

Keistimewaan Lahumbo tidak berhenti pada usianya. Secara geologi, situs ini memperlihatkan interaksi kompleks berbagai proses bumi. 

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini tidak hanya terbentuk dari proses sedimentasi laut, tetapi juga dipengaruhi aktivitas magmatis dan tektonik yang intens. Kombinasi inilah yang menjadikan Lahumbo bernilai tinggi sebagai warisan geologi (geoheritage) dan laboratorium alam bagi penelitian kebumian.

Antara Ilmu Pengetahuan dan Cerita Lokal

Menariknya, nilai Lahumbo tidak hanya berhenti pada aspek ilmiah. Bagi masyarakat setempat, kawasan batu merah ini juga menyimpan cerita budaya. Dalam tradisi lama, lokasi ini pernah digunakan untuk ritual “modayango” atau dikenal juga sebagai tarian pemanggilan arwah  yang memperlihatkan keterkaitan antara lanskap geologi dan praktik budaya lokal.

Penggabungan antara nilai geologi, budaya, dan sejarah inilah yang menjadi konsep utama geopark bukan hanya melindungi batuan, tetapi juga merawat hubungan manusia dengan alamnya.

Menuju Geopark Nasional

Potensi besar Lahumbo turut menarik Kunjungan tim verifikasi geopark nasional hingga pengamatan dari jaringan geopark global menilai kawasan Boalemo, termasuk Lahumbo, memiliki kelayakan sebagai bagian dari Geopark Gorontalo.

Geosite ini dinilai memiliki nilai ilmiah tinggi, keunikan bentang alam, serta fungsi edukasi yang kuat. Tidak berlebihan jika Lahumbo disebut sebagai salah satu kunci dalam pengembangan geopark di wilayah tersebut.

 

Lahumbo bukan sekadar destinasi, melainkan pengingat bahwa daratan yang kita pijak hari ini pernah menjadi dasar laut purba.
Di sanalah, waktu, alam, dan sejarah bertemu dalam diam menunggu untuk dipahami, bukan sekadar dilihat.